Di antara sikap mencintai Nabi ﷺ adalah dengan mencintai sahabat-sahabat beliau yang mulia. Dan di antara bentuk kecintaan itu adalah membela mereka dari tuduhan jahat orang-orang yang membenci mereka.
Salah satu narasi menyimpang yang kerap dilontarkan adalah tuduhan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma menelantarkan jenazah Rasulullah ﷺ demi sibuk berebut kekuasaan.
Membaca lembaran sejarah yang valid justru membuktikan sebaliknya.
Tindakan para sahabat di hari-hari tersebut adalah puncak dari tanggung jawab besar untuk menyelamatkan umat Islam dari perpecahan.
Tulisan ini merangkum kronologi peristiwa wafatnya hingga pemakaman beliau ﷺ dari hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun 11H hingga selesai, yang sekaligus membuktikan betapa besarnya pengorbanan para sahabat.
Hari Senin
Kepanikan, Krisis, dan Penyelamatan Umat
Wafatnya Rasulullah ﷺ
Nabi ﷺ wafat pada hari Senin waktu Dhuha di kamar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Para sahabat mengalami kesedihan yang mendalam. Umar bin Khattab bahkan sempat menyangkal wafatnya beliau, hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq datang membacakan ayat Al-Qur’an untuk menenangkan umat.
Krisis di Saqifah Bani Sa’idah
Di saat yang sama, beredar kabar bahwa kaum Anshar sedang berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin dari pihak mereka.
Jika kekosongan kepemimpinan ini dibiarkan, potensi kekacauan dan perpecahan umat sudah di depan mata.
Bukti Tidak Gila Kuasa
Kehadiran Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah di Saqifah adalah langkah darurat untuk menjaga keutuhan umat.
Bukti nyata bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak ambisius adalah: di Saqifah, beliau justru mengusulkan agar Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah yang dibaiat.
Namun, keduanya menolak keras, dan Umar bin Khattab-lah yang berinisiatif membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Selesai pada Hari Senin
Penting untuk dicatat bahwa perdebatan dan krisis kepemimpinan di Saqifah ini berhasil diselesaikan pada hari Senin itu juga.
Setelah kesepakatan tercapai, umat kembali bersatu, dan para sahabat bisa fokus pada pengurusan jenazah Nabi ﷺ di hari berikutnya.
Sepanjang hari Senin, jenazah beliau dijaga oleh keluarganya di dalam rumah.
Hari Selasa
Pembagian Tugas dan Shalat Jenazah
Pada hari Selasa, tidak ada lagi perdebatan kekuasaan. Terjadi pembagian tugas yang sesuai adab dan sunnah.
Baiat ‘Ammah
Pada pagi hari Selasa, dilakukan baiat umum kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq di Masjid Nabawi untuk mengukuhkan stabilitas umat secara resmi.
Ahlul Bait Memandikan Jenazah
Pengurusan jenazah difokuskan kepada keluarga terdekat.
Ali bin Abi Thalib, Al-Abbas beserta kedua putranya (Al-Fadhl dan Qutsam), Usamah bin Zaid, dan Syuqran bertugas memandikan jenazah Nabi ﷺ.
Beliau dimandikan tanpa dilepaskan pakaiannya.
Mengkafani
Berdasarkan hadits dalam Syama’il An-Nabi ﷺ, jenazah Rasulullah ﷺ dikafani dengan tiga helai kain katun suci berwarna putih buatan negeri Yaman (kain Suhuliyyah), tanpa menggunakan baju gamis maupun serban penutup kepala.
Shalat Jenazah Bergelombang
Jenazah kemudian diletakkan di atas tempat tidurnya.
Proses shalat jenazah memakan waktu yang sangat lama. Hal ini dikarenakan saking banyaknya sahabat yang ingin menshalati, sementara kamar tersebut sempit.
Mereka masuk secara bergantian, kelompok laki-laki, kemudian perempuan, lalu anak-anak, dan menshalati beliau sendiri-sendiri tanpa ada satu imam yang memimpin shalat.
Rabu Dini Hari
Pemakaman yang Penuh Hikmah
Penentuan Lokasi Makam
Setelah shalat jenazah selesai pada malam hari (memasuki Rabu dini hari), para sahabat sempat berbeda pendapat mengenai lokasi pemakaman.
Di titik inilah Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan keputusan mutlak berdasarkan hadits yang ia dengar langsung dari Nabi ﷺ:
❝Tidaklah seorang nabi diwafatkan melainkan ia dimakamkan di tempat ia meninggal dunia.❞
Proses Pemakaman
Penggalian kubur dilakukan oleh Abu Thalhah dengan model Lahad (liang menyamping di dasar kubur).
Pada pertengahan malam menjelang subuh hari Rabu, keluarga terdekat, yaitu Ali, Al-Fadhl, Qutsam, dan Syuqran, turun ke liang lahad untuk memakamkan jasad manusia yang paling mulia tersebut.
Kesimpulan
Tuduhan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma menelantarkan jenazah Nabi ﷺ adalah kekeliruan sejarah.
Faktanya, krisis kepemimpinan di Saqifah Bani Sa’idah selesai tuntas pada hari pertama (Senin).
Waktu hingga Rabu dini hari dihabiskan murni untuk memfasilitasi sangat banyak sahabat yang bergantian menshalati jenazah beliau di ruangan yang sempit.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu justru berperan kunci dalam pemakaman.
Saat para sahabat berselisih tentang lokasi makam, beliau memberikan keputusan mutlak berdasarkan hadits bahwa Nabi ﷺ dimakamkan tepat di tempat wafatnya.
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum terbukti berhasil menyelamatkan umat dari perpecahan di saat genting, sekaligus menunaikan hak jenazah Rasulullah ﷺ dengan penuh penghormatan dan ilmu.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Referensi
- Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam
- Ar-Rahiq Al-Makhtum, karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri
- Syarah Syama’il An-Nabi ﷺ, karya Imam At-Tirmidzi, disyarah oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr