Pernahkah kita sadar, semakin modern peradaban, sering kali semakin rendah kita mendefinisikan diri kita sendiri?
Coba sesekali kita letakkan dua cermin besar untuk melihat pantulan diri kita: cermin sains biologi modern dan cermin Al-Qur’an. Keduanya memberikan jawaban yang sangat bertolak belakang tentang siapa kita sebenarnya.
1. SAINS MODERN: KITA HANYALAH “HEWAN CERDAS”
Buka buku teks biologi mana pun, dan lihat bagaimana sains modern mendefinisikan identitas kita. Kita dimasukkan ke dalam Kingdom Animalia (Kerajaan Hewan), ordo Primata, dan famili Kera Besar (Hominidae).
Bagi sains yang murni materialistik, manusia (Homo sapiens) tak lebih dari sekadar kera tak berbulu lebat yang kebetulan otaknya membesar, kebetulan bisa berjalan tegak, dan kebetulan menang dalam seleksi alam.
Tidak ada makna spiritual di sana. Kita dianggap lahir dari mutasi genetik acak, hidup digerakkan murni oleh insting bertahan hidup dan reproduksi, lalu mati dan kembali menjadi karbon.
Sains melucuti sisi sakral kita karena murni hanya menilai dari “daging dan tulang”.
2. AL-QUR’AN: KITA ADALAH MAKHLUK YANG DIMULIAKAN
Sekarang, bandingkan dengan cara Al-Qur’an menatap kita. Saking mulianya eksistensi kita, Al-Qur’an bahkan tidak menggunakan satu kata tunggal untuk menyebut “manusia”. Ada berbagai diksi presisi yang merangkum betapa berharganya kita:
Al-Basyar: Mengakui sisi fisik dan biologis kita. Bahwa kita memang butuh makan, minum, dan terikat pada hukum alam.
Al-Insan: Menyoroti sisi intelektual dan spiritual kita. Bahwa kita diberi akal, empati, dan memikul amanah moral dari Tuhan.
An-Nas: Menggambarkan sisi sosial kita. Bahwa manusia itu saling membutuhkan, berbangsa-bangsa, dan membangun peradaban bersama.
Bani Adam: Mengingatkan sejarah kehormatan kita. Bahwa kita adalah anak keturunan yang mulia, bukan hasil mutasi tak disengaja.
Al-Ins: Menegaskan eksistensi nyata kita sebagai hamba yang punya tujuan beribadah.
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam… dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
QS. Al-Isra: 70
SEBUAH IRONI YANG TAJAM
Inilah letak ketajamannya: Saat sains modern menyebut kita primata sebagai sebuah “fakta ilmiah”, Al-Qur’an justru menjadikan perumpamaan hewan sebagai teguran paling keras.
Ketika Al-Qur’an menyamakan manusia dengan binatang ternak, anjing, atau keledai, itu bukanlah klasifikasi biologi. Itu adalah kecaman atas kejatuhan martabat!
Manusia baru terdegradasi levelnya menjadi hewan ketika ia berhenti menggunakan Al-Insan (akal dan nurani)-nya, dan hidup sekadar menuruti insting Al-Basyar (hawa nafsu dan perut).
Menjadi hewan di mata Al-Qur’an adalah sebuah pengkhianatan terhadap akal sehat manusia itu sendiri.
Bagaimana kita mendefinisikan diri, akan sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup.
Jika kita merasa tak lebih dari sekumpulan sel hewan yang berevolusi, maka sah-sah saja jika kita hidup egois memakai hukum rimba.
Tapi jika kita sadar ada kemuliaan Tuhan yang dititipkan di dalam dada, kita akan melangkah dengan penuh martabat dan tanggung jawab.
JADI, CERMIN MANA YANG AKAN ANDA PILIH?
Kini, setelah melihat kedua cermin di atas, cermin mana yang akan Anda pilih?
Silakan dijawab di hati atau di kolom komentar:
Anda mau dipanggil dan diakui sebagai manusia dari sudut pandang kemuliaan Al-Qur’an, atau sekadar primata dari sudut pandang teori biologi?