Pelajaran dari Kisah Habil dan Qabil
Video podcast ini menyajikan kajian mendalam mengenai panduan bersikap bagi seorang Muslim di masa penuh fitnah — yakni masa di mana ujian, kekacauan, atau perselisihan yang tidak jelas kerap menimbulkan kebingungan moral.
Pembahasan ini mengambil pelajaran utama dari kisah dua putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan diperkuat oleh Hadis Nabi Muhammad ﷺ.
Fokus kajian ini juga mencakup peringatan penting terhadap potensi kesalahpahaman terhadap makna kesabaran yang bisa mematikan semangat membela agama.
1. Model Kesabaran: Sikap Habil yang Tidak Membalas
Kajian dimulai dari Surah Al-Ma’idah ayat 28–29, di mana Qabil berniat membunuh Habil. Habil, yang kurbannya diterima dan berada di pihak yang benar, berkata:
“Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Para ulama menyoroti fakta bahwa secara fisik Habil disebut lebih kuat daripada Qabil, namun ia memilih untuk tidak melawan. Sikap ini menjadi simbol kesabaran dan ketakwaan sejati.
- Syariat Awal: Sebagian ulama, seperti Imam Mujahid, menjelaskan bahwa pada masa Nabi Adam berlaku syariat yang mengharuskan seseorang yang tahu akan dibunuh untuk tidak melawan. Ini mirip dengan fase awal dakwah Nabi Muhammad ﷺ di Makkah (fase Makkiyah), di mana umat diperintahkan untuk bersabar dan menahan diri meskipun dizalimi.
- Husnuzan dan Ketenangan: Sebagian ulama menafsirkan bahwa Habil tetap tenang karena berprasangka baik (husnuzan) bahwa ancaman saudaranya hanyalah luapan emosi sesaat.
2. Panduan Nabi ﷺ di Zaman Kekacauan (Fitnah)
Sikap Habil menjadi landasan bagi panduan Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi masa-masa penuh fitnah. Dalam Hadis riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi, Nabi bersabda:
“Sesungguhnya akan terjadi fitnah. Yang duduk padanya lebih baik daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Yang berjalan lebih baik daripada yang berlari.”
Hadis ini menunjukkan bahwa dalam situasi fitnah, menjauh, menahan diri, dan mengurangi interaksi adalah perintah agama. Ketika para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang masuk ke rumahku untuk membunuhku?”, Nabi ﷺ menjawab:
“Jadilah engkau seperti anak Adam (Habil).”
Ini menjadi dasar utama: dalam kondisi kacau dan tidak jelas, tindakan terbaik adalah menahan diri — bukan karena lemah, tetapi karena taat pada prinsip syariat.
3. Garis Batas Syariat: Membela Agama vs. Terjebak Fitnah
Salah satu poin penting dalam kajian ini adalah menegaskan batas yang jelas antara kesabaran yang bernilai ibadah dan kesabaran yang salah tempat. Kesalahan memahami Hadis Habil dapat dimanfaatkan untuk mematikan semangat umat dalam membela agama.
A. Potensi Kerancuan yang Dihembuskan
Ada narasi keliru yang sering dihembuskan, seperti: “Untuk apa sibuk membela agama? Tuhan itu Maha Mulia dan tidak perlu dibela.”
Narasi seperti ini berpotensi menyesatkan karena memelintir makna kesabaran Habil.
Peringatan: Jika urusan tersebut menyangkut kehormatan Allah ﷻ, Rasul, atau Al-Qur’an, maka itu menjadi tanggung jawab umat Islam. Nabi Muhammad ﷺ sendiri menunjukkan sikap tegas jika syariat Allah ﷻ direndahkan. Karena itu, Kisah Habil tidak boleh dijadikan dalih untuk mematikan semangat membela agama.
B. Konteks Wajib Melawan (Mencari Kemuliaan)
Jika ancaman ditujukan untuk merampas harta, kehormatan, atau negeri yang sah milik Muslim, maka syariat memerintahkan untuk melawan.
Nabi bersabda (HR. Muslim): “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia syahid.”
Perlawanan ini menjamin salah satu dari dua kebaikan (Ihdal Husnayain): kemenangan yang mulia (nasr) atau mati syahid (syahadah).
C. Dilarang Melawan (Menghindari Kehancuran)
Namun, jika pertarungan terjadi di antara sesama Muslim karena dorongan emosi, fanatisme, atau kepentingan duniawi, maka Nabi ﷺ melarangnya karena hasilnya hanya kehancuran dua pihak:
“Apabila dua orang Muslim saling berhadapan dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama di neraka.” (Muttafaqun ‘Alaih – HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika para sahabat bertanya mengapa yang terbunuh juga masuk neraka, Nabi menjawab: “Karena dia pun berniat kuat untuk membunuh saudaranya.”
Maka dari itu, jika sebuah konflik hanya menghasilkan “menang jadi arang, kalah jadi abu,” saat itulah seorang mukmin diperintahkan untuk:
- Menahan diri,
- Tidak bergerak,
- Menguatkan kesabaran,
- Dan meneladani Habil.
4. Pelajaran Utama: Ilmu adalah Kunci
Seorang Muslim harus menggunakan ilmu dan pemahaman syariat untuk membedakan antara:
- Perlawanan yang jelas dan diwajibkan (membela hak, kehormatan, atau agama), dan
- Keterlibatan dalam fitnah yang tidak jelas, yang hanya menimbulkan permusuhan dan kehancuran.
Dalam konteks modern, hal ini juga berlaku untuk konflik verbal di media sosial atau perselisihan keluarga. Tanpa ilmu, seseorang mudah terjebak dalam lingkaran fitnah dan emosi.
Karena itu, seorang Muslim harus memastikan bahwa setiap langkah, komentar, atau tindakan membawa manfaat yang jelas, bukan sekadar memperkeruh keadaan dan merusak persatuan umat.
Kesimpulan
Di masa penuh fitnah, menahan diri bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk ketaatan dan kecerdasan spiritual.
Sikap terbaik adalah berhati-hati dalam bertindak, menimbang dengan ilmu, dan menjadikan kisah Habil sebagai teladan moral — tanpa mengabaikan kewajiban untuk membela kebenaran dan kehormatan agama.
Pesan Nabi ﷺ: “Jadilah seperti anak Adam.”
Tonton video lengkapnya untuk mendapat lebih banyak faidah..
Belum ada yang komen nih..