As-Sakhawi dalam bukunya
Adh-Dhau’ Al-Lâmi’ menegaskan profil singkat seorang ahli bahasa besar,
Imam Muhammad bin Ya‘qub Fairuz Abadi (w. 817 H).
Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat selektif dalam memilih buku-buku berharga.1
Sebagaimana dinukil dari sebagian orang yang pernah mendengarnya berkata:
“Aku telah membeli berbagai buku seharga 50.000 mitsqal emas.”1
Meski buku-buku tersebut harus diangkut dalam jumlah besar, beliau tetap membawanya ke mana pun bepergian. Setiap singgah di suatu tempat, buku-buku itu selalu beliau
keluarkan untuk dibaca. Dan apabila hendak melanjutkan perjalanan, beliau pun menaruh kembali buku-buku tersebut ke tempat semula.
Jika dihitung secara kasar, 1 mitsqal emas setara dengan sekitar ± 4,25 gram. Maka 50.000 mitsqal berarti sekitar 212.500 gram atau 212,5 kilogram emas murni.
Dengan harga emas 24 karat hari ini yang berkisar ± Rp 2,5–2,6 juta per gram, maka nilainya setara dengan lebih dari Rp 500 miliar.
Angka ini menunjukkan betapa luar biasa pengorbanan dan kesungguhan para ulama dalam menuntut ilmu, hingga rela menginfakkan harta dalam jumlah yang sangat besar demi buku dan pengetahuan.
Inilah tanda kemajuan sebuah peradaban, ketika sesuatu yang dianggap paling berharga dan bernilai mahal adalah ilmu.
Berbeda dengan peradaban hari ini yang secara hakikat justru mengalami kemunduran dari sisi keilmuan. Hal ini dapat dilihat dari apa yang dibeli manusia dengan harga mahal pada masa kini:
- Mobil sport mewah
- Coretan abstrak tanpa makna
- Pisang yang ditempel di dinding
- Koleksi kartu Pokémon bernilai miliaran
Semua itu mahal harganya, namun nihil manfaatnya bagi kehidupan dan
kemajuan ilmu manusia.
Catatan Kaki
- Ali bin Muhammad al-‘Imrān,
Gila Baca ala Ulama: Potret Keteladanan Ulama dalam Menuntut Ilmu.
(Rujukan kisah Imam Muhammad bin Ya‘qub Fairuz Abadi, dinukil dari
Adh-Dhau’ Al-Lâmi’ karya As-Sakhawi).
Belum ada yang komen nih..