1. Pentingnya Shalat
Shalat merupakan ibadah paling agung dan tiang agama. Karena kedudukannya yang tinggi, gangguan terhadap shalat sering terjadi. Para ulama menjelaskan bahwa semakin penting suatu ibadah, semakin besar upaya setan untuk merusaknya.[1]
Maka tidak mengherankan bila dalam sumber-sumber hadits shahih kita mendapati bahwa sahabat dan bahkan Rasulullah ﷺ pernah diganggu oleh setan, baik dari kalangan jin maupun manusia, ketika sedang shalat.
2. Gangguan Jin: Riwayat Nabi ﷺ Mencekik Jin
Riwayat Abu Hurairah (Muslim)
“Sesungguhnya Ifrit dari kalangan jin mendatangiku tadi malam untuk memutuskan shalatku. Namun Allah memberiku kekuatan untuk mengalahkannya, lalu aku mencekiknya. Bahkan aku berniat untuk mengikatnya pada salah satu tiang di pelataran masjid agar kalian semua dapat melihatnya pada pagi hari. Tetapi aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman: ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan karuniakanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seorang pun setelahku…’ (QS Shad: 35). Maka aku pun melepaskannya dalam keadaan hina.”
(HR. Muslim)
Riwayat lain (Al-Bukhari)
“Aku hendak mengikatnya pada salah satu tiang masjid, agar kalian—anak-anak kecil Madinah—dapat melihatnya.”
(HR. Al-Bukhari)
Catatan penting dari riwayat-riwayat di atas:
- Gangguan jin kepada Nabi ﷺ bersifat nyata (gangguan fisik), bukan sekadar bisikan.
- Nabi ﷺ diberi kemampuan oleh Allah untuk menundukkan jin tersebut secara fisik.
- Beliau berniat mengikat jin itu pada tiang masjid agar menjadi bukti nyata bagi manusia—terutama anak-anak Madinah—bahwa ada gangguan nyata yang dilakukan oleh jin.
- Namun, beliau tidak melakukannya karena teringat akan doa Nabi Sulaiman yang menyangkut kerajaan khusus; sehingga jin itu dilepaskan dalam keadaan hina.
3. Gangguan Manusia: Pembesar Quraisy Menjatuhkan Kotoran Unta
Bentuk gangguan yang paling kasar terjadi ketika Nabi ﷺ shalat di dekat Ka’bah. Beberapa pembesar Quraisy duduk dan mengolok-olok beliau. Mereka memerintahkan seseorang untuk mengambil kotoran, darah, dan plasenta (ari-ari) unta yang baru disembelih, lalu meletakkannya di punggung beliau ketika sujud.[5]
Rasulullah ﷺ tetap sujud tanpa bergerak hingga putrinya, Fathimah radhiyallahu ‘anha, datang dan membersihkannya. Setelah selesai shalat, beliau mendoakan kebinasaan atas mereka dan menyebut nama-nama mereka.
Nama-nama orang Quraisy yang disebut dalam riwayat
- ‘Amr bin Hisyām — dikenal sebagai Abu Jahl.
- ‘Utbah bin Rabi‘ah.
- Syaibah bin Rabi‘ah.
- Al-Walīd bin ‘Utbah.
- Umayyah bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf (terdapat perbedaan dalam beberapa riwayat).
- ‘Uqbah bin Abi Mu‘ayṭ.
- ‘Imārah bin Al-Walīd (tambahan dalam beberapa sanad, mis. riwayat Ahmad).
Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu bersaksi bahwa orang-orang yang disebut Nabi ﷺ tersebut banyak di antara mereka tewas pada Perang Badar, sehingga doa Nabi ﷺ menunjukkan keterkaitan antara penganiayaan dan akibat sejarahnya.[6]
4. Gangguan Was-was: Jin Khanzab Mengganggu Sahabat
Utsman bin Abu Al-‘Ash pernah mengadukan bahwa setan mengganggu bacaannya dalam shalat. Nabi ﷺ bersabda:
“Itu adalah setan yang bernama Khanzab. Jika engkau merasakannya maka mintalah perlindungan kepada Allah dan ludahlah ke arah kiri tiga kali.”
(HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi dasar amalan praktis ketika mengalami was-was saat shalat: membaca ta’awwudz (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم) dan meludah ringan ke kiri tiga kali sebagai tindakan pembersihan simbolik dari gangguan.
Ibrah dan Pelajaran
Berikut adalah pelajaran yang dapat diambil dari riwayat-riwayat tersebut:
- Gangguan dalam shalat adalah tanda pentingnya ibadah ini.
- Setan berusaha memutuskan shalat manusia, bahkan Nabi ﷺ sekalipun tidak luput dari gangguan.
- Gangguan setan dapat berupa was-was, lintasan pikiran, atau bahkan gangguan fisik.
- Cara menghadapi was-was adalah membaca ta‘awwudz dan meludah ringan ke kiri tiga kali.
- Nabi ﷺ menunjukkan bahwa jin dapat dilawan secara fisik.
- Beliau tidak mengikat jin itu di tiang masjid karena menghormati doa Nabi Sulaiman.
- Gangguan dari manusia lebih keji, namun Nabi ﷺ tetap bersabar sampai selesai shalat.
- Doa orang yang terzalimi, terutama doa Nabi ﷺ, sering menunjukkan konsekuensi historis (sebagai pelajaran moral dan hukum sebab-akibat).
- Kisah-kisah ini mengajarkan keteguhan, kesabaran, dan fokus ketika shalat, apapun godaannya.
- Peristiwa-peristiwa ini juga menegaskan pentingnya sikap adab, kehormatan, dan pembelaan terhadap penghinaan dalam bingkai hukum dan etika Islam.
Catatan Kaki / Referensi
- Lihat penjelasan ulama klasik, mis. Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid, bab tentang gangguan setan dalam ibadah.
- Riwayat tentang Utsman bin Abu Al-‘Ash yang mengeluhkan gangguan bacaannya—(HR. Ahmad). Hadits ini mengandung penjelasan tentang Khanzab.
- Riwayat Jabir bin Samurah tentang setan yang melemparkan kotoran manusia kepada Nabi ﷺ (HR. Ahmad).
- Riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Muslim mengenai ‘Ifrit yang mengganggu shalat Nabi ﷺ dan bagaimana Nabi menundukkannya, bermaksud mengikat pada tiang masjid, namun melepaskannya karena mengingat doa Nabi Sulaiman (QS. Shad: 35).
- Riwayat Al-Bukhari dan Ahmad mengenai peristiwa saat Nabi ﷺ sujud di dekat Ka’bah dan diletakkan kotoran unta di punggung beliau oleh beberapa pembesar Quraisy.
- Pernyataan Abdullah bin Mas’ud tentang nasib orang-orang yang disebut Nabi ﷺ—terkait peristiwa Perang Badar (HR. Al-Bukhari).
Belum ada yang komen nih..