I. Pendahuluan: Optimisme dan Peran Warasatul Anbiya
Ustadz Budi Ashari membuka ceramah dengan memotivasi para pendidik—warasatul Anbiya (pewaris para Nabi)—agar tetap optimis di tengah krisis pendidikan yang membuat banyak orang berilmu dan berharta menjadi putus asa.
Beliau mencontohkan Perang Khandaq, ketika sahabat-sahabat besar seperti Umar dan Ali sempat terhenti karena situasi yang sangat mencekam. Namun, di tengah keadaan itu Nabi Muhammad ﷺ justru memberikan visi besar tentang penaklukan Persia, Romawi, dan Yaman saat menggali parit. Ini menjadi bukti bahwa orang beriman adalah orang yang tetap menyimpan harapan dan ucapan positif ketika orang lain sudah pesimis.
II. Studi Kasus: Murid Lambat dan Kesabaran Guru
Ustadz Budi Ashari menantang para guru: jika ada anak yang paling sulit diatur atau paling lambat memahami pelajaran, serahkan kepadanya.
Kisah Ar-Robi’ bin Sulaiman Al-Muradi:
- Ia adalah murid Imam Syafi’i yang terkenal sangat lambat memahami pelajaran.
- Imam Syafi’i mengulang satu pembahasan hingga puluhan kali—bahkan disebut sampai 40 kali—demi memastikan muridnya paham.
- Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Kalau bisa, aku ingin menyuapkan ilmu kepadamu satu per satu, pasti akan aku lakukan.”
- Hasilnya, Ar-Rabi’ kelak menjadi salah satu perawi terbesar dari kitab-kitab Imam Syafi’i dan menjadi orang yang paling besar pengabdiannya kepada beliau.
- Pelajarannya: guru sejati bukan hanya memperhatikan murid yang pintar, tetapi mengasuh murid yang paling lambat.
III. Mendefinisikan Peran Pendidik: Mualim, Mudarris, Murabbi
Pendidik memiliki tiga peran penting yang sering disalahpahami:
- Mualim: berhubungan dengan ilmu, yaitu orang yang mentransfer pengetahuan.
- Mudarris: dari kata dars (pelajaran), yaitu memastikan ilmu dipelajari tuntas dari awal sampai akhir. Sistem belajar kilat seperti “SKS – Sistem Kebut Semalam” tidak termasuk dalam makna dars. Dars juga berkaitan dengan keridhaan penulis kitab yang ingin karyanya diajarkan secara utuh.
- Murabbi: dari kata rabba (tumbuh). Tugas murabbi adalah mengawal pertumbuhan santri secara menyeluruh—akal, ruh, dan fisik.
IV. Konsep Adab dan Disiplin: Ta’dib vs. Hukuman
Pendidik juga disebut sebagai Muaddib. Ta’dib adalah proses menumbuhkan adab, dan menjadi dasar konsep hukuman dalam pendidikan.
- Tujuan hukuman bukan untuk memuaskan kemarahan guru, tetapi untuk mengembalikan adab anak.
- Ulama pendidikan Islam melarang memukul lebih dari sepuluh kali karena selebihnya masuk wilayah pengadilan, bukan pendidikan.
- Pukulan dalam ta’dib harus memiliki niat yang benar, bukan luapan emosi.
Contoh: Guru Sultan Muhammad Al-Fatih, Aq Syamsuddin, pernah memukul Al-Fatih tanpa kesalahan apa pun untuk menanamkan pelajaran bahwa orang yang dizalimi tidak akan pernah lupa. Ini menjadi bekal agar Al-Fatih tidak menzalimi rakyatnya kelak.
Kisah Muawiyah dan sifat Al-Hilm:
Muawiyah bin Abi Sufyan dikenal sebagai pemimpin yang memiliki sifat al-hilm (kesabaran dan kemampuan menahan amarah). Ia mampu memaafkan orang yang sebenarnya layak dihukum, menjadi contoh puncak moralitas pemimpin hasil pendidikan yang benar.
V. Visi Besar Pendidikan: Memakmurkan Bumi
Ustadz Budi Ashari membahas pemikiran Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah.
- Lebih dari sepertiga isi buku tersebut membahas pendidikan, karena Ibnu Khaldun memahami bahwa pendidikan adalah kunci peradaban.
- Visi utama pendidikan adalah melaksanakan perintah Allah untuk memakmurkan bumi.
- Kegagalan pendidikan modern terlihat ketika para ilmuwan justru menciptakan teknologi yang merusak bumi—pencemaran, perusakan ekologi, dan lainnya.
- Ibnu Khaldun menegaskan bahwa sekalipun seseorang bergelar profesor, jika ia tidak memakmurkan bumi, maka ia adalah murid yang gagal.
- Beliau mengingatkan pentingnya keikhlasan. Sayangnya, pendidikan hari ini lebih fokus pada selembar sertifikat daripada makna ilmu itu sendiri.
VI. Definisi Manusia yang Benar: Shahibul Fikr
Kegagalan pendidikan bermula dari kegagalan mendefinisikan manusia.
- Manusia bukan sekadar hayawanun nathiq (hewan yang bisa bicara).
- Manusia adalah kesatuan fisik, akal, dan ruh.
- Manusia adalah Shahibul Fikr—makhluk yang mau berpikir. Banyak profesor hari ini yang tidak mau berpikir sehingga ilmunya tidak berjalan ketika umat menghadapi masalah.
Pendidikan harus melatih kemampuan berpikir (tadabbur, tafakkur), bukan hanya menjadikan murid seperti mesin perekam. Tujuan akhirnya adalah melahirkan manusia yang ahli berkarya (sina’ah atau skill).
VII. Alegori Puncak: Ilmu, Akal, dan Taufik
Ceramah ini ditutup dengan sebuah alegori:
- Ilmu dan Akal berdebat tentang siapa yang lebih mulia.
- Ilmu menang dengan menunjukkan bahwa Allah tidak memiliki nama Al-‘Aqil, tetapi memiliki nama Al-‘Alim (Yang Maha Berilmu).
- Lalu datang Taufik (pertolongan Allah), yang menyatakan bahwa tanpa kehadirannya, baik ilmu maupun akal akan tersesat.
Kesimpulan
Pendidikan sejati harus menyatukan tiga elemen penting: Akal, Ilmu, dan Taufik. Ilmu memang lebih mulia daripada akal, tetapi taufik adalah penentu segalanya. Ketika taufik hadir, segala urusan menjadi mudah, bahkan seseorang dapat menyelesaikan masalah yang belum pernah ia pelajari sebelumnya.
Tonton video lengkapnya..
Belum ada yang komen nih..