Risiko Bumi: Mengapa Laki-laki Ditakdirkan Menanggung Beban Kesengsaraan Nafkah?
(Resume dari HIKAYAT PODCAST Episode 7: Ustaz Budi Ashari)
Podcast Hikayat episode 7 yang dibawakan oleh Ustaz Budi Ashari membahas tema mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari: risiko bumi atau kesengsaraan hidup, khususnya yang dipikul oleh kaum laki-laki. Diskusi ini berawal dari pengamatan miris tentang lelahnya hidup pria modern hingga menemukan pemaknaan mendalam dalam Al-Qur’an.
1. Kelelahan Laki-laki Modern dan Asal Mula Kesengsaraan
Kelelahan kaum laki-laki saat ini sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Banyak yang harus berangkat kerja sebelum Subuh dan pulang saat anak sudah tidur, semata-mata demi memenuhi tuntutan hidup modern seperti cicilan, biaya sekolah, dan kebutuhan lainnya.
Ustaz Budi Ashari menjelaskan bahwa secara Qurani, hidup di dunia memanglah sebuah kesengsaraan. Hal ini terekam dalam peringatan Allah SWT kepada Adam dan Hawa saat masih di surga.
Dalam Surah Thaha ayat 117–119, Allah memperingatkan Nabi Adam:
فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى
“Maka Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Sesungguhnya (Iblis) ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu menjadi celaka (fatasyqo).’”
Kata kunci di sini adalah فَتَشْقَى (fatasyqo) yang berarti sengsara atau celaka. Peringatan ini datang bahkan sebelum Adam dan Hawa melakukan kesalahan, menunjukkan bahwa keluarnya mereka dari surga ke bumi berarti awal mula sebuah perjuangan yang berat.
2. Mengapa Beban Kesengsaraan Hanya untuk Adam?
Menariknya, meskipun iblis diwanti-wanti akan mengeluarkan Adam dan Hawa (kalian berdua) dari surga, namun kalimat celaka atau sengsara (فَتَشْقَى) hanya ditujukan kepada Adam (kamu, tunggal).
Para ulama tafsir memberikan dua hikmah utama terkait penempatan kalimat “fatasqo” yang hanya ditujukan pada laki-laki (Adam):
A. Tafsir Imam Al-Qurtubi: Tanggung Jawab Nafkah Adalah Tugas Laki-laki
Imam Al-Qurtubi dalam tafsir Jami’ul Ahkam menyebutkan bahwa hal ini adalah pertanda bahwa yang akan sengsara dalam mencari kehidupan dan nafkah adalah Adam. Sejak hari itu, ditetapkan bahwa:
- Nafkah untuk perempuan adalah tanggung jawab laki-laki.
- Islam sangat melindungi perempuan. Wanita diciptakan dari tulang rusuk yang fungsinya untuk dilindungi dan dipeluk, bukan untuk memikul semua beban di pundaknya.
Oleh karena itu, Ustaz Budi Ashari menyebut peradaban modern yang melibatkan perempuan dalam kesengsaraan mencari nafkah sebagai “kejahatan peradaban.” Perempuan memiliki tugas besar lainnya yang tak kalah berat, seperti melahirkan dan menyusui.
B. Tafsir Syekh Tantawi: Kesejahteraan Keluarga Berpusat pada Laki-laki
Syekh Tantawi dalam tafsir At-Tafsir Al-Wasith menyatakan bahwa sengsaranya laki-laki mewakili sengsaranya keluarga. Sebaliknya, bahagianya laki-laki adalah bahagianya keluarga. Dengan disimbolkannya kesengsaraan pada Adam, hal itu secara otomatis berarti kesengsaraan bagi sang istri dan keluarga.
3. Empat Pilar Penderitaan di Bumi
Allah menjelaskan bahwa yang akan menyebabkan Adam sengsara di dunia adalah perjuangan untuk memenuhi empat kebutuhan dasar, yang di surga sudah terjamin:
- Pangan (Makanan): Tidak akan lapar — أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا (Alla tajua fiha).
- Sandang (Pakaian): Tidak akan telanjang — وَلَا تَعْرَىٰ (Wa la ta‘ra).
- Air (Minuman): Tidak akan haus — وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا (Wa annaka la tazhma’u fiha).
- Papan (Tempat Tinggal): Tidak akan terpapar panas — وَلَا تَضْحَىٰ (Wa la tadha).
Keempat hal ini sudah menjadi fokus kesibukan seluruh manusia di muka bumi. Bahkan kisah Nabi Adam yang harus menjadi petani pertama, memanen, menumbuk, dan mengolah gandum menjadi roti dengan susah payah hingga berkeringat, menegaskan betapa susahnya mendapatkan sekadar makanan.
Ironisnya, di zaman modern, manusia justru menambah beban sengsara itu dengan memasukkan banyak hal yang tidak pokok sebagai kebutuhan, seperti kendaraan, HP, pulsa, hingga biaya hiburan. Hal ini membuat hidup semakin terasa berat.
4. Solusi Syariat: Mengubah Lelah Menjadi Mulia
Kesengsaraan mencari nafkah akan terasa hampa, lelah, dan membosankan jika tidak dibingkai dalam Syariat Islam.
Dalam Islam, perjuangan laki-laki untuk mencari harta yang halal (ma‘īsyah – معيشة) bagi keluarganya disetarakan dengan tugas kenabian. Sama seperti Allah memerintahkan para Rasul dan orang beriman untuk makan dari yang baik-baik:
كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
“Makanlah dari yang baik-baik.”
Seorang laki-laki yang berusaha keras membersihkan rezeki keluarganya dari yang haram dan syubhat sedang berjuang dengan perjuangan yang mulia. Frame syariat ini mengubah keringat menjadi pahala, dan lelah menjadi berkah. Bahkan, apa yang disuapkan ke mulut istri dari hasil jerih payah yang halal pun bernilai sedekah.
Pesan Akhir
Kaum laki-laki sejati tidak seharusnya melibatkan perempuan dalam kesengsaraan mencari nafkah. Beban mencari nafkah adalah risiko bumi yang Allah peruntukkan khusus bagi kaum Adam. Sudah menjadi tugas laki-laki untuk menanggung beban berat ini agar keluarga dapat meraih kebahagiaan.
Tonton video lengkapnya..
Belum ada yang komen nih..